Sponsored
Home Spiritualitas KEBATINAN PARYANA SURYADIPURA

Spiritualitas

Sejarah Kebatinan Paryana Suryadipura

Pada dasarnya, ajaran kebatian memuat unsur ilmu ghaib, union mystic, sangkan paraning dumadi dan budi luhur. Untuk bisa memaknai kebatinan secara tepat, setidaknya kita dimestikan untuk mengungkapkan tiga hipotesis pokok;

Pertama, kata kebatinan mungkin salinan dari pada arti approfondissement de la vie interiure (memperdalam hidup). Kedua, kata kebatinan merupakan salinan dari pada perkataan occultism yakni yang tersembunyi dan rahasia. Ketiga, bahwa kebatinan merupakan salinan yang wajar (letterlijk) daripada kata Arab Bathiniyyah

Sementara itu, Prof. Dr. Hamka berpendapat bahwa kata kebatinan diambilkan dari satu nama pecahan (firqah) atau satu golongan yang pada mulanya tumbuh dalam Islam, yaitu pecahan yang dikenal dengan nama Bathiniyyah. “Karena arti bathiniyyah itu memang kebatinan, yaitu suatu golongan yang mementingkan urusan batin”.

Seperti telah disebutkan terdahulu, R. Paryana Suryadipura adalah seorang tokoh aliran kebatinan di Indonesia. Dia berprofesi sebagai dokter yang dalam pengkajiannya berhasil menyusun suatu hipotesis tentang proses berpikir yang terjadi karena tenaga-tenaga listrik yang masuk ke dalam otak melalui panca indra. Keseluruhan ajarannya, dapat dipahami dari kitab Alam Pikiran yang diterbitkannya sejak tahun 1950. Sebenarnya, tidak ada satu ketegasanpun dalam kitab itu yang menyatakan bahwa konsep-konsep ajarannya merupakan aliran kebatikan. Akan tetapi, setelah kita membuka sejumlah referensi, ternyata ajaran Suryadipura tersebut selalu saja dimasukkan ke dalam kelompok aliran kebatinan dan kepercayaan.

Rahnip M., BA., misalnya, dalam bukunya Aliran Kebatinan dan Kepercayaan dalam Sorotan, dia memasukkan ajaran Paryana Suryadipura ke dalam kelompok aliran kebatinan atas dasar pandangannya tentang pembagian alam; dua bagian akal, persekutuan mistis dengan Tuhan, telor rohani, atman menghasilkan wahyu dan susunan zat mutlak.

Begitu pula halnya dengan Dr. Harun Hadiwijono dalam bukunya Kebatinan dan Indjil. Menurutnya, ajaran Paryana Suryadipura masuk ke dalam kelompok aliran kebatinan didasarkan atas telaahannya tentang: ajaran tentang Allah dan manusia. Tegasnya, “Paryana Suryadipura mencoba mengemukakan suatu teori baru di lapangan antropologis biologis dengan memakai dasar-dasar kebatinan”.

Sebagai seorang dokter –beliau pernah menjabat sebagai kepala Rumah Sakit Umum Semarang, melalui konsep-konsep yang dia susun dalam kitab Alam Pikiran tersebut, R. Paryana Suryadipura diakui telah mendatangkan suatu kerangka ajaran untuk mencapai insan kamil berdasarkan atas cara berpikir dengan menggunakan kekuatan budi. Baginya, jalan pikiran yang benar itu adalah memikir dengan bagian pusat akal yang memaling ke arah tengah-tengah otak, ke arah budi, memikir dengan budi ke arah pusat akal dan ke arah angkasa.

Menurut pengakuan Paryana Suryadipura, kitab Alam Pikiran sebagai suatu kitab yang menjadi pegangan para pengikutnya, mengandung uraian tentang proses memikir yang perlu diketahui oleh semua orang yang menuntut kebahagiaan hidup, baikuntuk dirinya sendiri maupun untuk keluarga, nusa, bangsa dan masyarakat banyak.

Pemusatan konsepsi ajarannya pada proses memikir, disebabkan oleh pemaknaan bahwa soal memikir adalah soal kehidupan. Kehidupan bahagia tergantung pada tegaknya aturan hidup sendiri, mengikat satu anggota masyarakat dengan yang lainnya dalam suatu pergaulan hidup.

Dalam konteks proses memikir, tokoh aliran ini berprinsip bahwa semakin tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin dalam pula pikiran manusia memusatkan perhatian terhadap keadaan yang dapat disaksikan panca indra.

Lebih tinggi ilmu pengetahuan dan teknik meningkat, lebih dalam pikiran manusia memusat pada keadaan yang dapat disaksikan panca indra dan oleh karena itu lebih manusia tertipu oleh bayangan dengan tiga ukuran.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agaknya, telah berhasil memicu bertumbuhnya aliran filsafat. Apalagi sebagaimana diketahui, filsafat yang tumbuh atas dasar-dasar ilmu pengetahuan eksakta dan teknik, menjadi sebab tumbuhnya egoisme (mementingkan diri sendiri), liberalisme (aliran memikir dan berbuat dengan bebas), materialisme (mementingkan benda), kapitalisme (mementingkan modal) dan akhirnya menjadi imperialisme (tuntutan untuk dapat menguasai bangsa lain).

Jiwa imperialisme, menurut ajaran kebatinan Paryana Suryadipura, merupakan sumber kesesatan yang mengikat dunia dan manusia di dalam sebuah rangkaian kesulitan, kesukaran, kekurangan dan kesengsaraan. Hal ini mengakibatkan timbulnya pertentangan-pertentangan, persengketaan dan peperangan. Itu semua merupakan hasil kerja akal yang justru semua dibangga-banggakan, tetapi justru berakibat tidak sehat.

Dalam khazanah ajaran kebatinan Paryana Suryadipura, pikiran yang benar atau amal yang baik, bila mampu memenuhi cita-cita dan angan-angan manusia yang abadi dan menyangkut kepentingan umum, walaupun diucapkan sekejap atau dikerjakan sepintas lalu saja oleh seseorang yang tidak dikenal, justru akan memercikkan api. Kendatipun bunga api tersebut menyala cukup lama, namun kebenaran akan terus memijar dan sekali bertemu mangsanya akan dapat menyala lebih besar lagi.

Mengutip pendapat Frederick van Eeden, Paryana Suryadipura bila melihat sebaliknya, justru berkesimpulan bahwa pikiran yang salah dan amal yang buruk dapat merusak dan melumpuhkan semua tata tertib. “Belum pernah dunia manusia terjebak di dalam jala kusut kedustaan yang besar seperti sekarang”.

Paryana Suryadipura beralasan, paham-paham sesat yang kini menjalari kehidupan umat manusia, menyebabkan mereka terdesak dan tertekan ke dalam tabung paksaan hidup yang bukan kodratnya. Manusia terombang-ambing dan terbanting-banting oleh gelombang loba dan tamak serta diluluhlantakkan oleh badai angkara murka yang sedang menghampiri seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia.

Tidak dapat dipungkiri, memang, produk ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata tidak disertai dengan ketenteraman dunia. Bahkan yang terjadi justeru sebaliknya, dunia tambah diikat erat oleh kesulitan yang menyebabkan manusia bertambah leluasa dan seenaknya membunuh kehidupan secara besar-besaran. Biasanya dalam kondisi demikian, selalu digunakan dalih untuk keadilan, demi demokrasi, untuk keamanan dan ketenteraman. Bahkan ada yang berani menggunakan istilah alasan untuk menunaikan tugas suci (mission sacree).

Penganut aliran ini meyakini, semua keadaan di dalam alam ini mempunyai peredarannya sendiri-sendiri, siang berganti malam lalu siang lagi, hidup berganti mati dan dari zat-zat mati inilah tumbuh keadaan yang hidup. Naik dan turunnya keadaan di dalam alam adalah kodrat alam itu sendiri. Oleh karena itu, kemusnahan sama pentingnya dengan kebangkitan. Tidak ada sesuatu yang dapat bangkit apabila yang lama belum musnah.

Itu pulalah sebabnya aliran ini menilai bahwa tidak mungkin untuk melakukan pembaharuan diri dan lingkungan, sebelum alam pikiran dan cara berpikir diperbaharui terlebih dahulu. Harus diakui, pergaulan hidup modern dari awal menjadi korban kesalahpahaman, terutama muncul sejak periode renaissance yang selalu berulang dan membawa dendam membara. Alhasil, memaksa peradaban manusia menuju ke suatu jalan yang membuka peluang menangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, di balik itu, hancurnya peradaban manusia itu sendiri.

Pemikiran, baik yang benar maupun yang salah, merupakan hasil dari pekerjaan otak.

Untuk dapat menimbang aoakah gerak pikiran kita menuju ke arah kesalahan atau kebenaran, perlu kita mengetahui fa’al otak kita, Semua kaum cerdik pandai yang merasa mempunyai tanggungjawab terhadap masyarakat sebagai pemimpin atau pembesar pemerintahan, ataupun perusahaan, wajib mengetahui hal ini, agar amalnya senantiasa dituntun oleh pikiran yang benar. Terutama kaum pendidik yang bertugas mengisi otak anak-anak yang dididik, dengan pengetahuan dan kebenaran wajib mengetahui bagaimana otak anak-anak ini menerima dan mengerti didikan tadi, untuk kemudian dikembalikan sebagai amal baik.

Suyadipura dan Aliran-aliran Kebatinan di Indonesia

Berdasarkan pembahasan terdahulu, kita dapat memahami bahwa ajaran kebatinan Paryana Suryadipura hanyalah satu bagian dari banyak aliran kebatinan dan kepercayaan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Akan tetapi perlu ditegaskan, aliran kepercayaan dan kebatinan bukanlah agama dan tidak pula merupakan agama baru. Menurut Rahnip, ia hanyalah daerah pelarian dari agama, “Sebagai sanctuary yang dirasakan aman”.

Diantara sekian banyak aliran kebatinan dan kepercayaan, setidaknya ada beberapa aliran yang sangat populer, yaitu Paguyuban Sumarah, Sapta Dharma, Bratakesawa, Pangestu, Susila Budi Dharma, Paryana Suryadipura, Ajaran Adam Makrifat dan Aliran-aliran Dajjal.

1. Ajaran Paguyuban Sumarah

Ajaran ini dikembangkan oleh dr. Soerono Prodjohoesodo pada tahun 1950 di Yogyakarta. Akan tetapi, ilmu Sumarah adalah itu sendiri telah diilhamkan kepada R. Ng. Soekirnohartono sejak tahun 1935. Bagi Soerono, ilmu Sumarah adalah suatu ilmu kebatinan yang dengan jalan sujud sumarah (menyerahkan diri) mempelajari sampai tercapai bersatunya jiwa dengan zat Yang Maha Esa.

Inti ajaran ini mencakup tentang Tuhan, manusia dan kelepasan. Selain itu, ajaran ini juga membahas tentang wahyu, tujuan diri, hukum karma, patuh pada perintah, reinkarnasi, persekutuan dengan Allah, jiwa manusia, manusia seutuhnya dan tak ada senjata yang dapat melukai.

2. Sapta Dharma

Ajaran Sapta Dharma artinya adalah tujuh amal suci. Didirikan oleh Hardjosapoetro di Kediri pada tanggal 27 Desember 1952. Menurut Sri Pawenang, SH., salah seorang wanita yang ahli hukum pada Universitas Gadjah Mada (UGM) dan pernah memimpin ajaran Sapta Dharma, ini ajaran aliran ini adalah hendak mencapai mangaju-ngaju bagja bawana, hendak berusaha agar hidup manusia bahagia di dunia dunia ini dan di akhirat.

Di dalam ajaran Sapta Dharma terangkum ajaran tujuh kewajiban suci, sifat manusia, pembagian alam, penyembahan, bersekutu dengan Tuhan, hening, racut dan olah rasa.

3. Bratakesawa

Inti ajaran Bratakesawa adalah tentang cahaya terpuji, Allah Purusha dan Allah Isywara, bangkit dari maut, takdir dan cara shalat makrifat. Bratakesawa, tokoh aliran ini, adalah seorang bekas wartawan, pada tahun 1952 menulis sebuah buku berjudul Kunci Swarga. Target utama Bratekesawa menulis buku ini sebenarnya dalah untuk turut serta menyumbangkan pikiran guna pembangunan akhlak bangsa Indonesia yang baru saja terbebas dari penjajahan.

4. Ajaran Pangestu

Paguyuban Ngestu Tunggal (Pangestu) berisi tentang persatuan untuk manunggal, Tuhan tiada bersifat, tri purusha, empat anasir permulaan, kesadaran roh suci, perlengkapan tubuh, reinkarnasi, hasta sila dan paliwara serta cara-cara beribadah. Ajaran Pangestu didirikan pada tanggal 20 Mei 1949 di Surakarta. Akan tetapi, untuk pertama kalinya telah diwahyukan kepada Soenarto Mertowerdjojo sejak tanggal 14 Februari 1932 di Widuran, Surakarta.

Kitab (serat) pegangan aliran ini bernama Sasangka Djati. Serat ini berisikan, “Hasta sila, paliwara (larangan), gumelaring dumadi (terbentangnya alam semesta), tunggal sabda (satu dalam kata), dalan rahayu (jalan keselamatan), sangkan paran (asal dan tujuan), dan panembah (pemujaan).

5. Susila Budi Dharma (Subud)

Ajaran Susila Budi Dharma (Subud) pertama kali diwahyukan pada tahun 1925 dengan tokohnya Muhammad Subuh Sumohardiwidjojo. Sejak tahun 1958, ajaran Subud tidak saja berkembang di Indonesia, akan tetapi telah menyebar luas ke luar negeri. Inti ajarannya mencakup kontak dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, getaran hidup pada rasa diri, menerima wahyu, keinsyafan hidup sesudah mati, kebaktian pada Tuhan YME, dan cara menyembah bapak Subud. Yang dimaksud dengan bapak Subud di sini adalah Muhammad Subuh itu sendiri.

6. Paryana Suryadipura

Ajaran Paryana Suryadipura dikembangkan oleh dr. R. Paryana Suryadipura yang menulis buku Alam Pikiran pada tahun 1950. Buku tersebut berisi uraian tentang proses berpikir yang perlu diketahui oleh semua orang yang menuntut kebahagiaan hidup, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya, nusa, bangsa dan masyarakat seumumnya.

Ajaran Paryana Suryadipura pada hakikatnya menyangkut struktur otak dan proses berpikir, panca indra, hakekat kenyataan rohani, nafsu dan penggerak kecendikiaan, pandangan tentang agama dan Tuhan Yang Maha Esa, pengendalian nafsu dan periodesasi perkembangan manusia menuju kebatinan (insan kamil).

Selain itu, ajaran ini juga menjelaskan konsepsi hawa yang sangat halus, berpikir dengan budi dan sinar kosmos yang menguraikan aether menjadi zat yang paling halus yang menjadi asal segala zat. Itulah zat yang mutlak.

7. Ajaran Adam Makrifat

Ajaran Adam Makrifat didirikan di Semanu Yogyakarta pada tanggal 26 November 1961 oleh S. M. H. Sirwoko. Dasar kepercayaan Adam Makrifat adalah kitab suci Pandung Suksma. Perbadatannya dilakukan dengan semadi tidur untuk menyelami alam ghaib, sehingga mampu berwawancara langsung dengan Rama Resi Prinsuh, disebutnya mencapai tammat ilmu sukmaan. Belakangan, ajaran Adam Makrifat mencakup dua aliran, yaitu Perkumpulan Ummat Adam Makrifat Indonesia (PUAMI) dan Penganut Ajaran Pransuh.

8. Aliran-aliran Dajjal

Setidaknya, dewasa ini terdapat empat kelompok besar Aliran-aliran Dajjal, yakni Siti Jenar, Martabat Tujuh, Shalat Dhaim dan Manunggal. Ajaran Siti Jenar menanggap manusia sebagai microcosmos yang sprituil elements of the universe.

Dia mempunyai mantra yang dapat memaksa dewa-dewi dengan kekuatan devine yang sanggup memimpin mereka ke tingkat yang sempurna tinggi bahagianya, dan hal itu dibarengi dengan melakukan Molimo, diantaranya ritus sexual intercourse. Mereka menganggap diri suci, oleh karena itu tidak ada yang terlarang bagi orang suci seperti judi, candu, lacur, mabuk dan boros.

Shalat Dhaim merupakan ajaran yang menyebabkan kita bisa menampak Tuhan Yang Maha Esa:

Berdirinya adalah hidupku, rukuknya adalah mataku, iktidalnya adalah kupingku, sujudnya adalah hidungku, bacaan ayatnya adalah mulutku, duduknya adalah tetapnya imanku, tahyatnya adalah kuatnya tauhidku, salamnya adalah makrifatnya Islamku, kiblatnya adalah menghadap kepada pikiranku, sebagai menunaikan wajib atas kodratku sendiri. Kemudian lalu menyerah kepada Zat Hidup kita sendiri.

Ajaran Manunggal adalah kepercayaan akan bersatu dengan Tuhan melalui konsentrasi, kontemplasi dan semadi. Agama hanyalah untuk orang-orang yang masih berada dalam kelas yang rendah tingkatannya.

Mencermati aliran-aliran kebatinan dan kepercayaan tersebut di atas, dan yang kini tengah berkembang, agaknya ajaran yang dikembangkan oleh Paryana Suryadipura merupakan aliran yang nyata-nyata berangkat dari kerangka berpikir yang logis. Selain cukup rasional bila dipandang sekilas, ajaran ini juga mereferensi pendapat berbagai ahli dan ulama seperti Imam Ghazali, Sigmund Freud, Karl Perasen, Hamka, Henri Borel, dan lain-lain.

Dengan demikian, sulit untuk disangkal bahwa disamping memiliki perbedaan, terdapat juga cara-cara yang sama. Bahkan tidak salah bila dikatakan, aliran-aliran kebatinan itu memiliki metode yang sama setiap zaman dan tempat. Seolah-olah berfungsi sebagai benang emas yang mengikat antara satu aliran dengan aliran yang lain.

Bisa saja yang satu mengajarkan ini, yang lain mengajarkan itu. Tetapi cara-caranya tentu terdapat dalam setiap jenis aliran kebatinan. Dan, justeru cara-cara yang khas inilah yang membuat aliran yang bersangkutan bisa disebut sebagai kebatinan. Kendatipun demikian, setidak-tidaknya kesamaan cara dapat dilihat dari pandangannya tentang Tuhan, manusia dan jalan kelepasan.

Tidak dapat diingkari, kalau sejarah telah menunjukkan bahwa setiap agama di dunia memiliki aliran kebatinannya tersendiri. Aliran kebatinan tidak akan pernah lenyap dari muka bumi ini, selama semua agama masih ada kecenderungan untuk menekankan hanya salah satu segi saja dari hidup keagamaan itu sendiri. Hal ini diperkuat oleh tesis Dr. Harun Hadiwijono, bahwa aliran kebatinan adalah rekening yang belum dibayar oleh lembaga keagamaan. Segera lembaga-lembaga keagamaan itu melalaikan tugasnya terhadap hidup keagamaan yang murni, aliran kebatinan itu akan timbul bersuara keras, untuk mengingatkan agama yang ada kepada rekening hidup keagamaannya yang belum dibayar tersebut. Maka aliran kebatinan dapat juga disebut sebagai kata hati agama, tetapi bukan inti sari agama.

Hipotesis Serba Tenaga Kebatinan Suryadipura Menurut Ajaran Islam

Tidak ada keterangan yang jelas tentang rahasia hidup setelah mati, kecuali hanya dalam ajaran Islam. Pengakuan R. Paryana Suryadipura, konsep atau hipotesisnya tentang kekuatan serba tenaga (energismus) tidak bertentangan dengan inti ajaran Islam. Kebatinan Suryadipura meyakini, rohani sebagai bagian dari tubuh manusia, hidup abadi dan tersusun dari bion-bion yang bebas, tidak dapat dilihat, tidak dapat didengar dan diraba, serta tidak tampak nyata.

Mengutip Buchari, Paryana Suryadipura menjelaskan bahwa ajaran Islam tentang akhirat adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata, tidak dapat didengar dengan telinga dan tidak dapat dimengerti oleh hati manusia. Al-Quranpun menegaskan bahwa tidak ada makhluk yang dapat mengetahui, apa yang tersimpan baginya.

Ajaran kebatinan Suryadipura tentang hakikat rohani, ternyata tidak bertentangan dengan inti ajaran agama itu, terutama bila dikaji lebih dalam, banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang juga berbicara tentang hidup sesudah mati tersebut. Ajaran serba pesawatnyapun beranggapan bahwa kelompok bion-bion yang disebut rohani itu, suatu makhluk hidup yang dapat hidup abadi dunia dan akhirat.

Sementara itu, Al-Quran juga memberikan penjelasan bahwa hidup di ajhirat memberi jalan kepada manusia ke arah alam kemajuan yang jauh melebihi kehidupan di dunia ini.

Dengan demikian, hipotesis kekuatan energismus yang diutarakan Paryana Suryadipura berketetapan, rohani mengandung jumlah pikiran yang lengkap, baik mengenai budi luhur maupun kejahatan yang dilakukan jasmani selama hidup di dunia ini. Itu dapat disimpulkan, rohani tumbuhnya karena jasmani.

Tentang ini, Paryana Suryadipura mengutip Al-Quran Surat 56 ayat 57-61 yang terjemahannya disusunkan menurut visinya sendiri:

Kami mentjiptakan kamu; oleh sebab itu apa kamu tidak pertjaja kepada hakekatnya? Apakah kamu telah memikirkan pusat hidup? Apakah kamu yang mengadakan, atau apakah kamu yang mendjadi chaliknya? Kami menetapkan, bahwa kamu sekalian akan mati, akan tetapi Kami tidak akan dapat dialahkan agar Kami dapat merubah sifat-sifatnja dan mendjadikan kamu apa jang kamu tidak ketahui.

Lebih jauh dia menjelaskan bahwa terhadap ayat Al-Quran tersebut, Maulana Mohammad Ali dalam pengantarnya mengomentari bahwa kehidupan manusia tidak berakhir dengan kematian. Akan tetapi, kematian hanya memberikan pintu kepada kehidupan yang lebih tinggi. Seperti manusia secara berangsur-angsur terjadi dari benda, begitu pula manusia yang mulia berangsur-angsur terjadi dari amal yang dikerjakannya.

Merupakan suatu kenyataan yang sulit untuk dibantah, bahwa tidak sepatah katapun yang tidak dicatat, baik yang disembunyikan maupun yang terang-terangan. Semua perkataan, pikiran dan perbuatan ada catatannya di dalam kitab masing-masing orang. Kitab yang dimaksud dalam inti ajaran ini, tidak lain daripada kelompok tenaga-tenaga yang menjelmakan perkataan, pikiran dan perbuatan baik dan buruk.

Orang yang bertabiat jahat akan mendapat hukuman, baik di dunia maupun di akhirat. Hukuman di dunia adalah hukuman penjara, sedangkan hukuman di akhirat adalah paksaan supaya hidup di dalam ruangan yang bukan ruangannya, yakni neraka. Surga dan neraka bukan tempat masing-masing untuk bernikmat dan bersengsara yang dialami setiap manusia setelah mati. Akan tetapi dua keadaan ini adalah juga kenyataan hidup di dunia.

Di dunia ini telah dimuliakan pula hidup di dalam swarga bagi mereka yang baik budi, dan ditetapkan hidup di dalam neraka bagi mereka yang jahat. Oleh karena itu mereka yang baik budi akan menerima dua swarga, sedangkan mereka yang jahat akan mengalami dua neraka.


Bagi aliran ini, hidup setelah mati adalah kelanjutan hidup sekarang, gambaran utuh dari seluruh kepribadian. Dengan demikian, semua pikiran dan perbuatan selama hidup di dunia, pasti tercatat utuh di dalam rohani. Pikiran-pikiran yang baik, demikian penjelmaan perbuatan baik di dalam kehidupan di akhirat, akan mendapat tempat yang utama. Sedangkan pikiran-pikiran jahat selaku penjelmaan dari perbuatan jahat, akan tetap terikat dengan dunia ini. Inilah yang dimaksud dengan alam kemanusiaan.

Masih menurut versinya sendiri, Paryana Suryadipura mengutip Al-Quran dengan terjemahan sebagai berikut:

Dan timbangan pada hari itu akan dilakukan dengan adil; dan adapun mereka jang timbangannja (dari amal perbuatan baik) berat, ialah mereka jang berbahagia. Dan adapun mereka jang timbangannja (dari amal perbuatan baik) ringan, ialah mereka jang merugikan rohaninja.

Dalam aliran Paryana Suryadipura, ringannya timbangan disebabkan bagian rohani yang mengandung keburukan tinggal terikat di dalam dunia, hingga merugikan rohani itu sendiri, sedangkan bagian yang tidak ikut serta ditimbang karena tinggal di dunia, ialah yang menjadi iblis atau syetan, malah adakalanya juga menjadi hantu.

Paryana Suryadipura memang memfokuskan seluruh ajarannya kepada kekuatan serba tenaga, serba pesawat. Dalam konteks uraian di atas, tenaga-tenaga itu adalah rohani, iblis, syetan dan sebagainya, yakni makhluk yang sama persis dengan manusia. Akan tetapi, terdiri dari tenaga-tenaga bion, atau elektro magnetik yang tidak perlu menggunakan alat-alat untuk melakukan sesuatu perbuatan. Ibaratnya umat manusia tidak lagi mempergunakan mesin-mesin untuk mengadakan sesuatu; semua keperluan ialah buah tangan sendiri.

Bagi aliran ini, makhluk-makhluk seperti tersebut di atas, mempunyai alam sendiri, mereka tidak dapat dilihat dengan mata biasa, karena memiliki ukuran empat, sedangkan manusia mempunyai ukuran tiga.


Sumber: musriadi.multiply.com/journal (Skripsi Aku, Hanya Bab II Aja)





Comments (0)