Pendidikan yang BermaknaMenurut Buchori (2001), pendidikan bermakna dapat diartikan sebagai pendidikan untuk memahami makna. Pemahaman makna ini penting karena pengetahuan yang tidak bermakna (meaningless knowledge) tidak ada gunanya dan hanya menjadi beban hidup. Sebaliknya, pengetahuan yang bermakna (meaningful knowledge) merupakan sesuatu yang bersifat fungsional dan berguna bagi kehidupan. Mengutip buku terkenal dan menjadi buku klasik berjudul Realms of Meaning, Buchori menyebutkan enam jenis wilayah makna, yaitu makna simbolik, empirik, estetik, sinoetik, etik, dan sinoptik. Untuk memahami makna di wilayah simbolik, siswa harus mempelajari bahasa dan matematika. Untuk masuk ke wilayah makna empiris, siswa harus belajar lingkungan fisik (fisika, kimia, biologi, dsb), lingkungan sosial, dan budaya. Pelajaran seni (seni suara, seni sastra, seni gerak, dan seni visual) dapat membentuk makna estetik. Makna sinoetik dipahami melalui bermain peran, pembahasan film, maupun cerita-cerita lain. Comments (0) Membaca Manifesto Komunis Secara DemokratikMAKNA apa yang bisa diambil dari membaca The Communist Manifesto, setelah 163 tahun sejak publikasi pertamanya pada 1848? Bagi sebagian orang, buku ini ibarat barang antik yang menjelaskan gejolak politik revolusioner pada abad ke-20 dengan romantisme pembebasannya, revolusi politik yang membuat tatanan ekonomi politik tunggang-langgang, maupun keteguhan para aktivis dan intelektual kiri dalam memosisikan diri pada front kelas pekerja. Mereka membaca karya ini seperti kaum puritan membaca kitab suci, sebagai teks yang memfosil dan harus direalisasikan dengan tepat kalimat demi kalimatnya, tesis demi tesisnya tanpa kurang sedikitpun dalam realitas bumi manusia. Sementara bagi sebagian lainnya, sebagai sebuah buku yang memotret sejarah abad ke-19 dan 20, karya ini dipandang tidak memberikan inspirasi apa-apa bagi masa kini dan masa depan. Di antara dua titik ekstrimitas tersebut, tulisan ini belajar menyelamatkan api progresif di balik rangkaian kata-kata yang tertoreh dalam kitab Manifesto Komunis (selanjutnya disebut Manifesto). Di satu pihak, saya ingin melampaui penyepelean oleh kalangan yang ingin memusiumkannya, tanpa pernah menyadari bahwa apa yang ditulis Marx dan Engels tentang sistem kapitalisme, baik aspek revolusioner maupun aspek eksploitasinya terhadap manusia masih relevan hingga kini. Di pihak lain, saya juga menolak membaca kitab ini seperti sebuah risalah suci, yang menempatkan Manifesto sebagai buku petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis dalam menganalisa peristiwa-peristiwa horor abad ke-20, dengan menerjemahkan kitab ini sebagai tuntunan program untuk membangun perencanaan ekonomi-politik yang ketat dengan menempatkan manusia sebagai bahan material dari bangunan yang mereka impikan. Kedua posisi tersebut, sadar atau tidak, telah membiarkan tumpukan piramid kurban manusia terbangun dalam sejarah manusia abad ke-20. Comments (0) Prof. Vedi R. Hadiz: Proletariat Tidak Selalu Bisa Memanfaatkan DemokrasiSALAH SATU tema penting dan kontroversial tapi tidak mendapatkan pembahasan yang utuh dari Karl Marx, adalah tema tentang Negara. Dalam Manifesto Komunis, tema ini muncul dalam bentuk yang ringkas dan padat. Untuk itu, dalam rangka merayakan ulang tahun Manifesto, Coen Husain Pontoh dari IndoPROGRESS, mewawancari Profesor Vedi R. Hadiz, dari Murdoch University, Australia. Berikut petikannya: IndoPROGRESS (IP): Menurut Anda, apa relevansi Manifesto Komunis sebagai dokumen politik dan historis saat ini? Vedi R. Hadiz (VRH): Manifesto Komunis adalah suatu pamflet politik yang ditulis sebagai instrumen perjuangan. Untuk memahami ide-ide yang tertuang di dalamnya secara mendalam, kita perlu membaca tulisan-tulisan Marx yang lain. Tetapi sebagai instrumen perjuangan, naskah ini masih punya kemampuan menggetarkan. Hal ini cukup mengejutkan apabila diingat bahwa naskah itu ditulis pada pertengahan abad ke-19. Walaupun Marx tidak mungkin membayangkan globalisasi kapitalisme sebagaimana yang kita alami sejak akhir abad ke-20, misalnya, tetapi efek sosial, ekonomi dan politik dari globalisasi itu digambarkan oleh Marx secara cukup akurat. Ia menggambarkan bagaimana masyarakat masyarakat yang tersentuh oleh kapitalisme akan mengalami proses transformasi sosial yang menjungkirbalikkan segala hal yang ada sebelumnya dan bagaimana logika akumulasi modal akan mendikte proses perubahan sosial. Comments (0) Pram & ArokPEMBERONTAK, menurut Albert Camus, yaitu orang yang berkata tidak dan ya sekaligus. Ia berkata tidak terhadap penindasan yang menderanya; berkata ya sejak pertama kali akan memberontak. Pram dan Arok merupakan tipe pemberontak yang dikatakan Camus. Sebagai pemberontak, Pram menuliskan novel Arok Dedes. Entah mengapa, novel ini lebih dikenal sebagai novel sejarah. Ia lebih tepat disebut sebagai kitab seni memberontak. Tak berlebihan bila kitab ini disejajarkan dengan karya Machiavelli: The Art of War. Machiavelli membabarkan seni perang ala Eropa, Pram menampilkan gelar—formasi dan taktik perang ala Hindu—lengkap dengan baling-baling yang akan memutar pemberontakan; dengan gelar, feodalisme Hindu berhasil mengalahkan republik-republik desa di Jawa dan Sumatra. Arok dalam versi Pram, tak lain taktikus pemberontakan yang luar biasa. Sebagai pemberontak, Arok terlebih dahulu mengritik kaum intelektual (brahmana). Menurutnya, para intelektual hanya mencaci maki kekuasaan, tak berbuat lebih dari itu. Dalam bahasa Arok: ‘Seluruh ilmu dan pengetahuan, milik paling berharga dari kaum brahmana yang tak dapat diragukan ini, dikerahkan hanya untuk memburuk-burukkan yang tidak disukai, tidak menjadi kekuatan yang mengungguli yang lain-lain.’ Bagi Arok, kaum intelektual yang berumah di atas angin mesti diturunkan ke bumi. Comments (0) Agama Dan Negara: Jejak Persilangan KekerasanBAGAIMANA sebaiknya kita membaca kasus kekerasan sektarian, khususnya yang mengatasnamakan Islam, yang sangat menonjol saat ini? Meminjam kategorisasi dari filsuf Slavoj Zizek,[1] jenis kekerasan yang terjadi mulai dari kekerasan langsung/fisik (aksi bom bunuh diri, penyerangan, pengusiran, pembunuhan, perampokan dan perampasan harta milik kelompok yang berbeda penafsiran dari penafsiran umum dalam aspek-aspek tertentu ajaran Islam dan terhadap mereka yang bukan Islam), hingga kekerasan ideologis (rasisme, penghinaan, dan diskriminasi seksual) terhadap nilai-nilai yang dipandang tidak Islami. Yang menarik, dari seluruh parade kekerasan sektarian ini, negara bertindak tegas hanya dalam kasus teror bom.[2] Selain itu, negara melakukan pembiaran terhadap terjadinya tindak kekerasan yang merenggut korban jiwa tersebut. Pertanyaannya kemudian (1) mengapa aksi-aksi kekerasan sektarian ini berlangsung sedemikian marak? (2) Apa penyebab dan tujuan dari aksi kekerasan tersebut? (3) Mengapa negara membiarkan tindak kekerasan itu terus berlangsung?; dan (4) Bagaimana kita menempatkan gerakan Islam demikian ini dalam konteks perjuangan mengatasi kapitalisme? Comments (0) |